Prostitusi Di Aceh di Jaman Jepang

Ketika Jepang masuk ke Aceh, mereka juga membawa ratusan perempuan penghibur, pemuas birahi para tentara dalam perang dunia kedua. Orang Aceh menyebut para perempuan itu sebagai Nyai Jepang, sementara orang Jepang sendiri menamainya Jugun Ianfu.

Kisahnya hampir sama dengan tempat protistusi masa kolonial Belanda berkuasa di Aceh yang dibangun pensiunan tentara berkebangsaan Yahudi bernama Bolchover.

Kisah tentang tempat pelacuran Bolchover ini bisa dibaca dalam buku Peutjoet. Buku ditulis oleh Tjoetje mantan pegawai Kolonial Belanda di Bestuurs Meulaboh, Aceh Barat, diterbitkan pada tahun 1972. Isi buku masih menggunakan ejaan lama yang belum disempurnakan.

Jugun Ianfu, wanita penghibur tentara Jepang pada perang dunia II

Sementara kisah Nyai Jepang di Aceh, bisa dibaca dalam buku Batu Karang di Tengah Lautan. Buku ini ditulis oleh Teuku Alibasyah Talsya, diterbitan pada tahun 1990 oleh Lembaga Sejarah Aceh.

Talsya menceritakan, ketika kekuasaan Jepang berakhir di Aceh. Residen Aceh mengambil alih berbagai kantor jawatan pemerintahan dan merebut senjata-senjata Jepang untuk menghalau kemungkinan masuknya tentara NICA dan sekutu ke Aceh.

Dalam suasana peralihan kekuasaan tersebut, ada suatu masalah yang meyangkut kehidupan sosial dan keagamaan di Aceh, yakni keberadaan wanita-wanita peliharaan Jepang dan praktek protistusinya.

Pada 8 November 1945, Residen Aceh mengeluarkan maklumat berisi pengumuman bahwa praktek pelacuran dan pemeliharaan nyai, mulai tanggal 9 November 1945, jam 01.00 siang dilarang, meskipun sebelumnya sudah mendapat izin dari Gunseibu (Pemerintah Jepang) ditutup.

Dalam maklumat tersebut Residen Aceh juga melarang penjualan minuman keras (arak) yang pada masa pendudukan Jepang diperjualbelikan secara bebas. Izin praktek pelacuran dan penjaualan minuman keras dari Gunseibu tersebut dinyatakan tidak berlaku lagi, karena Residen Aceh sudah membentuk pemerintahan baru. Senjata-senjata api yang tidak memiliki surat izin diminta untuk segera diserahkan kepada pihak yang berwajib (Residen Aceh).

Masalahnya kemudian adalah, bagaimana dengan keberadaan para wanita peliharaan di tempat protistusi (Nyai Jepang) tersebut setelah Jepang keluar dari Aceh, sementara para perempuan peliharaan tersebut merupakan wanita-wanita dari luar Aceh yang dibawa Jepang ke Aceh sebagai wanita penghibur.

Kisah tempat protistusi di Aceh juga terjadi pada zaman penjajah Kolonial Belanda. Adalah Bolchover mantan tentara Belanda berkebangsaan Yahudi yang membuka tempat protistusi pertama di Aceh.

Ketika pensiun dari dinas kemiliteran, Bolchover membangun sebuah perkebunan di bekas tempat pemeliharaan kuda kalvaleri militer Belanda, letaknya di sebelah selatan Kerkhof Peucut komplek kuburan Belanda di Banda Aceh.

Awalnya Bolchover hanya berkebun di sana, tapi kemudian ia membangun tempat penginapan, lengkap dengan bar dan tempat hiburan malam. Para tentara Belanda kelas bawah yang kelelahan dari tugas dinas kemiliterannya di Aceh, sering datang ke tempat Bolchover tersebut untuk mencari hiburan.

Begitu juga dengan para istri tentara Belanda yang ditinggal suaminya bertugas ke daerah luar Banda Aceh. Mereka sering mendengar musik, berdansa, dan menikmati minuman keras di tempat Bolchover, sehingga kemudian terjadi berbagai kisah perselingkuhan antara tentara Belanda dengan para istri rekannya yang melakukan operasi militer dan berperang di luar Banda Aceh.

Dari kisah perselingkuhan, kemudian tempat tersebut tumbuh menjadi tempat protistusi. Bolchover yang semula membangun perkebunan, kini lebih banyak mendapat keuntungan dari bar dan rumah penginapannya, sehingga tempat Bolchover tersebut menjadi tempat yang sangat negatif sifatnya. Tjoete menyebut tempat itu sebagai komplek perkebunan dan tempat sex liar.

Setelah Belanda kalah, ketika Jepang masuk ke nusantara, tempat-tempat protistusi seperti taman Bolchover tersebut tidak hilang, malah praktek protistusi semakin bertambah dengan adanya wanita-wanita peliharaan yang dibawa oleh Pemerintah Jepang dari daerah lain ke Aceh.

Tempat-tempat praktek protistusi malah diberi izin oleh Gunseibu (Pemerintah Jepang) sebagai tempat beroperasinya para wanita penghibur yang dibawa Jepang sendiri ke Aceh untuk memenuhi kebutuhan biologis pejabat dan tentara Jepang.

Praktek protistusi baru benar-benar hilang di Aceh setelah Residen Aceh berhasil melucuti kekuasaan Jepang. Terhitung sejak 9 November 1945 pukul 01.00 siang semua tempat protistusi resmi ditutup, dan minuman keras dilarang beredar di Aceh.

sumber : Iskandar Norman, Jurnalis di Aceh